Menjadi Role Model untuk Anak, Sikap yang Sering Lupa Dilakukan

  • Whatsapp


Orang tua memang perlu menjadi role model untuk anak. Hal inilah yang terus tertanam di benak saya. Suatu hal yang saya pelajari.

Saya seorang tenaga kesehatan. Setiap kali melihat senior yang bertugas di Rumah Sakit memiliki perilaku yang baik, saya selalu terdorong untuk mencontohnya. Misalnya senior yang datang bekerja tepat waktu, maka saya akan berusaha datang tepat waktu.

Atau, ketika senior memiliki komunikasi yang baik dengan pasien, maka saya akan mengamati dan mencontohnya di lain kesempatan. Senior itu tidak menyuruh saya mencontohnya, tapi dia melakukan kebaikan yang membuat saya tergerak untuk mencontohnya.

Hal serupa juga saya alami saat saya di pesantren dulu. Ketika Pak Kyai meminta kami mejaga kebersihan kamar, maka kami akan melakukan perintah Pak Kyai tersebut. Kami melakukannya bukan semata karena rasa hormat kami, tapi karena beliau juga mencontohkan menjadi pribadi yang bersih. Lingkungan rumah beliau selalu bersih, dan terkadang beliau turut serta mengatur kami saat bersih-bersih.

Orang memang akan cenderung mencontoh perilaku yang dilihatnya. Hal ini sesuai dengan teori belajar sosial yang dikemukakan oleh psikolog Albert Bandura. Teori ini menyatakan jika perilaku sosial dipelajari melalui observasi dan mencontoh orang lain. Jika perilaku orang di lingkungannya baik, maka dia akan mencontoh perilaku baik tersebut, pun sebaliknya.

Itulah mengapa orangtua memang perlu menjadi role model untuk anak. Ah, andai saja prinsip seperti ini dilakukan oleh semua orangtua, entah berapa nilai-nilai kebaikan yang bisa ditanamkan kepada anak.

Apalagi, masa anak-anak adalah masa emas pertumbuhan. Pada usia 0-2 tahun anak akan mengamati dari lingkungan sekitarnya. Pada usia 2 hingga 7 tahun, anak-anak akan mencontoh apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya.

Apa yang dilihat, dirasakan dan didengar anak pada usia 2-7 tahun ini akan terserap di bawah alam sadarnya, sehingga membentuk keyakinan-keyakinan dan tertanam di sana. Karena anak belum tahu mana yang baik dan benar, mereka akan menganggap apa yang dilihatnya adalah yang benar. Sehingga fase ini adalah fase terbaik untuk menanamkan banyak nilai kebaikan kepada anak-anak.

menjadi role model untuk anak

Sayangnya, masih banyak orangtua yang tak sadar akan prinsip ini, betapa pentingnya menjadi role model untuk anak sehingga mereka banyak mencontohkan hal buruk kepada anaknya.

Misalnya membentak anak dengan nada yang tinggi yang akan menyebabkan anak menjadi pribadi yang mudah marah. Bertengkar di depan anak sehingga menyebabkan anak mengalami trauma dan menyelesaikan masalah dengan bertengkar.

Atau, tetap melakukan kebiasan merokok di depan anak yang menyebabkan anak menjadi perokok di masa mendatang?

Seperti kondisi yang dialami oleh sepupu saya. Paman saya adalah seorang perokok sejak dahulu. Beliau sering menyuruh anak-anaknya untuk membelikannya rokok. Maka, tidak heran jika sepupu saya merokok sejak duduk di bangku SMP. Karena dari kecil dia sudah biasa terpapar dengan rokok dan menganggap itu adalah hal biasa. Padahal, merokok sangat banyak sekali dampak buruknya.

Atau, terkadang orangtua memberi tahu anak untuk melakukan A, tetapi tidak sejalan dengan apa yang dilakukannya. Misalnya, meminta anak untuk tidak terlalu sering bermain gadget, sedangkan orang tuanya sibuk seharian bermain gadget. Menyuruh anak bersabar, tapi mengatakannya dengan nada marah-marah, mata melotot jengkel.

menjadi role model untuk anak

Beberapa kali saya temukan kasus orang tua yang tidak sinkron seperti itu di Rumah Sakit. Pada saat itu ada pasien anak yang mengalami luka bakar di wajahnya. Anak ini mengeluh kesakitan sambil berteriak-teriak dan mengucapkan kalimat umpatan kasar.

Orang tuanya pun mencoba menenangkannya untuk bersabar, namun dengan nada marah-marah dan mengancam akan meninggalkannya di rumah sakit. Hasilnya adalah, anaknya bukan jadi tenang justru makin berteriak dan marah-marah.

Bahkan anak akan mencontoh pola makan dari orangtuanya.

Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa anak akan cenderung mengikuti pola makan yang diberikan orangtuanya. Jika orangtua menyediakan makanan sehat sejak kecil, maka anak pun akan mencontohnya. Dan hal ini bisa menurunkan angkat obesitas pada anak.

Sudah seharusnya orang tua belajar menjadi role model untuk anak. Menjadi orangtua yang benar. Menjadi orang tua yang bisa menjadi rolemodel untuk anaknya. Menjadi orangtua yang sinkron antara ucapan dan perbuatan. Karena anak adalah seorang peniru ulung.

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.



Source link

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *