TMII, Cita-cita Bu Tien Bangun Disneyland Khas Indonesia


Pemerintah lewat Kementerian Seketariat Negara mengambil alih hak pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dari Yayasan Harapan Kita milik keluarga Cendana. Keputusan ini dituangkan dalam Perpes Nomor 19 Tahun 2021.

Digugatnya lima anak Soeharto dan peralihan hak pengelolaan TMII menjadi babak baru bagi proyek mercusuar pada era Orde Baru (Orba) ini. Melihat proses pembangunannya yang berjalan panjang dan penuh kontroversi.

Pembangunan TMII ini diinspirasi oleh Siti Hartinah alias Tien Soeharto, istri Presiden Soeharto. Tien memperoleh gagasan itu setelah berkunjung ke Thai-in-Miniature di Thailand dan Disneyland di Amerika Serikat.

Dikutip dari Historia, Tien Soeharto dalam Penjelasan tentang Projek Miniatur ‘Indonesia Indah’ berbagi pengalaman ketika berkunjung ke luar negeri. Indonesia sering dipandang kecil oleh bangsa lain.

“Masih sering didengar anggapan sementara orang asing bahwa Indonesia hanyalah terdiri dari Bali saja,” tulis Tien.

Tapi bukan hanya sekadar tempat hiburan, TMII akan menyasar kepada kebutuhan mental dan spiritual bangsa. Pelengkap pembangunan ekonomi untuk kebutuhan fisik dan jasmani bangsa.

TMII mulai dibangun pada 1972 dan diresmikan pada 20 April 1975. Sejatinya, topografi TMII agak berbukit. Kemudian tim arsitek memanfaatkan kontur tanah yang tidak rata untuk menciptakan bentang alam dan lansekap seperti wilayah Indonesia yang sesungguhnya.

Ditolak mahasiswa, dibela Soeharto

Sejak awal ide dari Tien Soeharto terkait pembangunan TMII telah memunculkan protes dari mahasiswa. Sejak 1971, mahasiswa telah getol menolak pembangunan karena biaya yang dianggap terlalu besar. Sekalipun berlabel ‘mini’, pembangunan TMII memerlukan biaya besar, kira-kira Rp10,5 miliar. Padahal disaat yang sama, Soeharto sedang menganjurkan masyarakat untuk hidup prihatin.

Karena itulah, pembangunan TMII ditengah masyarakat yang masih miskin dianggap bukan prioritas. Penolakan datang dari acara seperti seminar dan diskusi.

Dilansir dari Tirto, pada sebuah acara publik 6 Januari 1972, Soeharto mulai terusik lewat gaya khasnya di depan publik, presiden yang dikenal sebagai si jenderal yang doyan tersenyum, yang menyembunyikan amarahnya dalam intonasi yang dalam dan intimidatif.

Dikutip dari Menyilang Jalan Kekuasaan Militer Otoriter (2004), yang disusun Rum Aly dan ‎Hatta Albanik, Soeharto tak langsung menyalahkan para pemprotes, mayoritas dari kalangan mahasiswa.

Ia mengakui ada “perbedaan pendapat” yang disebutnya “bumbu demokrasi”. Tetapi, lanjutnya, “harus dalam batas-batas keserasian dan jangan hanya ingin menggunakannya sehingga timbul kekacauan, khususnya dalam menghadapi proyek miniatur Indonesia.” (hlm. 175).

Walau banyaknya gelombang protes yang dilakukan proyek TMII tetap berjalan. Kemudian berdirilah miniatur Indonesia di areal seluas 150 hektar di Jakarta Timur.

Logo TMII dan perwakilan 33 Provinsi

TMII memiliki logo yang pada intinya terdiri atas huruf TMII, Singkatan dari “Taman Mini Indonesia Indah”.

Sedangkan maskotnya berupa tokoh wayang Hanoman yang dinamakan NITRA (Anjani Putra). Maskot “Taman Mini Indonesia Indah” ini diresmikan penggunaannya oleh Ibu Tien Soeharto, bertepatan dengan dwi windu usia TMII, pada tahun 1991.

Di Indonesia, setiap suku bangsa memiliki bentuk dan corak bangunan yang berbeda, bahkan tidak jarang satu suku bangsa memiliki lebih dari satu jenis bangunan tradisional. Bangunan atau arsitektur tradisional yang mereka buat selalu dilatarbetakangi oleh kondisi lingkungan dan kebudayaan yang dimiliki.

Hal inilah diwujudkan melalui Anjungan Daerah di TMII, yang mewakili suku-suku bangsa yang berada di 33 Provinsi Indonesia. Anjungan provinsi ini dibangun di sekitar danau dengan miniatur Kepulauan Indonesia, secara tematik dibagi atas enam zona; Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Tiap anjungan menampilkan bangunan khas setempat. Anjungan ini juga menampilkan baju dan pakaian adat, busana pernikahan, baju tari, serta artefak etnografi seperti senjata khas dan perabot sehari-hari, model bangunan, dan kerajinan tangan.

Semuanya ini dimaksudkan untuk memberi informasi lengkap mengenai cara hidup tradisional berbagai suku bangsa di Indonesia. Beberapa anjungan juga dilengkapi kafetaria atau warung kecil yang menyajikan berbagai Masakan dan cinderamara Indonesia khas provinsi tersebut.

Hingga sekarang, TMII masih menjadi tujuan wisata bagi masyarakat Jakarta dan luar kota. Tercatat pada akhir pekan pertama 2021, wisatawan TMII mencapai 11.000 orang.

Baca Juga:





Source link

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *